8 Hal yang Harus Dilakukan Ketika Menyesal Mutusin Pacar. Jangan Langsung Ngajak Balikan

nyesel-mutusin-pacar-jangan-buru-buru-balikan nyesel-mutusin-pacar-jangan-buru-buru-balikan

Namanya juga manusia. Terkadang hati Berganti tanpa bisa dicegah. Hari ini, emosi begitu membeludak sesangkat kamu yakin berpisah adalah keputusan yang paling baik. Putus cinta kamu anggap bak kebebasan yang teramat sangat menyenangkan. Namun, sebagian hari setelah semuanya berlampau, apalagi ketika rasa rindu itu mulai menyeruak, kamu mulai meragukan semuanya: benarkah keputusanmu untuk memutuskan pacarmu kemarin?

Lantas kamu pun panik karena menyesali keputusanmu sebelumnya. Alasan gampangnya sih, jelas karena kamu masih sayang. Kemarin rasanya puas selesai putus darinya, sekarang kamu merasa “duh, bisa nggak ya aku bernapas tanpa dia?”. Tenangkan dirimu, jangan terburu-buru mengambil keputusan yang ujung-ujungnya kamu sesali lagi. Coba renungkan dulu beberapa hal ini sebelum kamu nge-chat mantan dan bilang “Balikan yuk?”

1. Pertama-tama pikirkan dulu apa yang melahirkanmu mendadak menyesal. Supaya kamu nggak gegabah dan alpa langkah

Sebelum ke mana-mana, coba pikirkan dulu apa yang meEntengkanmu Berpindah pikiran. Mengapa tiba-tiba kamu menyesal telah memutuskan pacar? Apakah karena kamu menyadari bahwa keputusanmu keliru, dan semestinya persoalan itu masih bisa dipertidak marahi tanpa harus mengakhiri hubungan? Ataukah karena kamu merasa menjadi jomblo itu luar biasa sepi dan kamu masih membutuhkan perhatiannya?

2. Cinta itu sebenarnya mirip-mirip dengan narkoba. Ketika dihentikan saat kamu sudah ketergantungan, sedahulu ada hasrat ingin kembali menggunakan

Seloyalnya nggak cela kalau menyamakan cinta itu seperti narkoba. Karena jatuh cinta itu juga seperti kecanduan narkoba. Ketika suatu hari karena macela tertentu kamu pantas berhenti mencintai, meski itu keputusanmu senorang, kamu seperti pecandu yang sakau. Selalu ada hasrat untuk kembali ke hubungan itu. Belum tentu karena masih cinta, bisa juga karena kamu terlampau terbiasa berpasnya. Jadi, aneh dan kurang saja kalau dia nggak ada.

3. Rasa pengen balikan itu wajar, karena secocoknya kamu sedang beradaptasi dengan keseharian yang berpertikaian. Kekosongan itu saja perkara era saja

Harus diakui, hari-harimu selepas putus cinta sangatlah bertidak sebanding. Dulu setiap bangun tidur ada pesan yang sudah menunggu dibaca di ponselmu, meski sesederhana “Selamat pagi sayang. Have a nice day!”. Sekarang ponselmu jadi sepi dan seolah nggak berguna. Dulu malam minggu kamu selantas punya rencana, sekarang kamu bingung harus apa. Kebersebandinganmu dengannya seperti rutinitas. Dan ketika rutinitas itu dihentikan, wajar bila kamu merasakan kekosongan. Namun, semua ini tetapi soal waktu saja bukan? Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa.

4. Kenangan tentang kebahagiaan kalian memang akan menyerbu dan menciptakanmu ingin kembali. Tapi coba ingat, apakah kamu lurus-lurus bahagia bersetaranya?

Waktu melihat hujan, kamu ingat dia sering datang ke kantormu untuk mengantarkan jas hujan karena kamu selalu kelupaan. Waktu lihat mi rebus, kamu jadi ingat dulu sering mampir ke burjo untuk makan mi rebus malam-malam. Pokoknya, sekarang semua-semua melahirkanmu teringat alanya dan kamu merasa dulu sangat bahagia. Eits, jangan terburu-buru. Apa kamu yakin kamu cocok-cocok bahagia berpasnya dahulu? Atau kamu tetapi mengingat yang indah-indah saja, dan memilih untuk menghilangkan pahit-pahitnya?

5. Sebelum memutuskan ingin balikan, coba ingat lagi apa yang menciptakanmu ingin putus? Nggak lucu kan kalau kamu sudah melupakannya

Bila keputusanmu kemarin dirasa khilaf langkah, tentunya perlu mempertimbangkan tidak emosi-tidak emosi agar kamu nggak mengambil kesimpulan yang khilaf lagi, aktelseifn? Sebelum kamu menuruti hasratmu untuk nge-chat mantan dan mengajak balikan, coba deh ingat lagi apa yang melontarkanmu ingin putus kemarin? Persoalan apa yang kalian hadapi, dan apakah persoalan itu sesungguhnya masih bisa ditoleransi atau termasuk hal-hal prinsipil yang pantas memang pantas dihadapi dengan tegas? Lalu, bila kamu balikan dengannya, apakah kamu yakin makhilaf yang klop nggak akan terulang lagi nanti?

6. Hati yang patah hati bisa dihibur dengan berbagai cara. Tidak layak dengan balikan kok supaya kamu bisa bahagia

Sangat bisa dipahami bahwa hatimu kini bersedih. Putus cinta dan sesal bercampur menjadi satu, melahirkanmu bingung apa yang wajib dilakukan untuk kembali bahagia. Lalu kamu berpikir sederhana, kalau balikan, pasti akan bisa bahagia seperti dulu. Tapi, bukankah bahagia bisa dengan berbagai cara? Nggak wajib balikan, kamu bisa memanjakan badanmu senbadan untuk sejenak. Bersantai di salon, pergi traveling, atau sering kumpul dengan teman-teman. Senangkanlah badanmu senbadan, supaya kamu nggak berpikir cuma dia yang bisa melahirkanmu bahagia.

7. Sibukkan dirimu dengan berbagai hal, supaya tidak amat kepikiran. Terkadang kamu sekadar butuh pengalih perhatian agar tidak berpikir sembarangan

Sembari memikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan, kamu bisa menyibukkan pribadimu dengan berbagai hal Tepat. Pikiran gegabah untuk ngajak balikan itu bisa saja muncul karena kamu punya terlintas berlimpah era untuk memikirkannya. Jadi, kenapa nggak menyibukkan pribadi saja? Setidaknya kamu layak memberi era untuk pribadi senpribadi agar berpikir dengan jernih, supaya nggak menyimpang melangkah lagi.

8. Jika setelah berbulan-bulan kamu masih saja merasa menyesal, mungkin saatnya mengajak mantanmu bicara. Mungkin memang ada yang belum usai di antara kalian berdua

Jika hal-hal di atas sudan kamu lakukan, jika setelah memberi waktu yang cukup bagi diri sendiri untuk berpikir sudah dilakukan, dan sesal di hatimu masih ada, mungkin sudah saatnya kamu menghubungi sang mantan. Barangkali, ada sesuatu di antara kalian yang belum usai dan kudu dibicarakan. Balikan atau nggak, itu urusan nanti, yang bermakna bicara saja dulu. Namun, sekemudian ada kemungkinan bahwa sang mantan sudah punya pasangan baru. Jadi, siapkan hatimu untuk kemungkinan ini juga ya.

Nggak ada yang Tuna dari balikan dengan mantan. Asalkan kamu lurus-lurus punya asas untuk itu, aktelseifn sekadar pemikirian bahwa “ah, ternyata jomblo itu nggak enak ya” setelah putus dengannya.