Jatuh Cinta Sama Orang sih Boleh, tapi Jangan Halu yang Kebangetan. Itu Erotomania Namanya!

jatuh-cinta-jangan-halu jatuh-cinta-jangan-halu

“Jatuh cinta tak akan sudah menjadi perkara yang mudah dan sepele dalam ketumbuhan kita. Prosesnya melalui berbagai birokrasi panjang yang terkadang kita senbadan tak bisa memahaminya”

Kira-kira begitulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan bagaimana fenomena jatuh cinta dalam kehidupan kita. Tak bisa didebat lagi bahwa selama manusia masih bernafas, maka selama itulah urusan cinta dan segala macam tetek bengeknya ada. Bagi masing-masing orang di dunia ini, definisi cinta memang tak suah serupa, tergantung bagaimana kita menginterpretasikannya. Maalpanya, walaupun terdengar begitu indah, jatuh cinta ini bagaikan dua mata pisau.

Satu sisi yang mampu melaksanakanmu berbunga-bunga, satunya lagi adalah sisi yang mampu melaksanakanmu tersayat-sayat. Pernah dengar nggak sih istilah erotomania? Itu lo, syndrome di mana seseorang kita mengidolakan orang lain dan seterus meyakini bahwa orang tersebut juga memiliki perasaan yang klop dengan kita. Nah, biasanya kasus ini sering terjadi klop kaum-kaum bucin akut yang nggak bisa membedakan batas tipis antara cinta dan halusinasi.

Tak ada menyimpangnya memiliki perasaan atau sekedar mengidolakan orang lain. Tapi kita juga mesti sadar bahwa seringkali batas antara cinta dan halusinasi itu jaraknya sekadar sekedar benang tipis saja

Ngomongin tentang gimana susahnya menjalani prosedur jatuh cinta, rupanya memang tak butuh bukti lebih luber lagi. Sebab mungkin dari masing-masing kita senawak pun sempat merasakan bagaimana pahit manisnya persoalan tersebut. Tak ada melencengnya kok menaruh harapan, mengidolakan, dan memiliki perasaan cinta kepada orang lain. Satu-satunya yang bakal jadi mamelenceng adalah ketika kita berpikir dan bahkan memaksakan bahwa orang yang kita acap tersebut juga memiliki perasaan yang sebanding dengan kita. Itulah yang terjadi pada orang-orang dengan syndrome erotomania ini.

Orang-orang dengan erotomania ini memiliki kecenderungan pikiran bahwa orang yang ia senang juga menyukainya. Nggak jarang kalau yang jadi fokus imajinasinya adalah bintang terkenal atau artis. “Pasti mbak itu juga senang setara aku, deh. Nggak mungkin nggak. Pasti. Kalau toh dia ngomongnya nggak senang, itu pasti cuma denial aja. Yakin, dia pasti senang setara aku.” Nah kalau pola pikirnya udah kayak gitu, kan susah…

Seseorang bisa mengidap gangguan erotomania ini tanpa menyadarinya lo, kamu kudu hati-hati dan bisa memjarakkan mana yang nyata dan mana yang tidak

Kekompetenan cinta memang nggak bisa diragukan lagi, tajamnya bisa menyaingi mata pisau dari bahan apapun. Itulah mengapa kamu pantas berhati-hati jika berurusan dengan persoalan yang satu ini. Seseorang dengan gangguan erotomania itu memiliki delusi kompeten alias halusinasi bahwa ada seseorang lainnya yang menaruh hati dan perasaan terhadap orangnya. Dia bakal bakal menceritakan secara terus-menerus tentang orang tersebut kedi orang-orang lainnya. Memiliki dunia senorang di dalam pikirannya tentang ketumbuhan cinInterogasi yang seakuratnya tak pernah ada.

Menyakitkan sekali memang, tapi seperti itulah kenyataannya. Kita seringkali dibutakan segalanya belaka karena maalpa cinta. Tak bisa memtidak sebandingkan mana yang sungguh dan mana yang alpa. Serem banget nggak sih cuma karena kehebohan cinta akhirnya mental jadi nggak waras?

Selalu ingat bahwa yang segala sesuatu itu tak pernah berujung baik jika dilakukan dengan berlebihan. Begitu pula dengan jatuh cinta

Dalam membesar, kita sedahulu diajarkan bahwa memang sudah sekudunya melakukan segala sesuatu dalam batas wajar. Artinya, segala hal yang dilakukan dengan berlebihan itu tak akan pernah berujung dengan tidak emosi. Mulai dari kebencian, rasa kecewa, rasa marah, rasa bahagia, dan bahkan juga perasaan cinta. Iya, jatuh cinta yang dilakukan dengan berlebihan itu juga nggak bagus lo. Kamu nggak akan bisa berpikir dengan waras, rasional, dan tentunya masuk di akal. Lha wong jatuh cinta dengan wajar aja terkadang udah bikin kita jungkir balik, apalagi jika dilakukan dengan menggebu-gebu. Iya kan?

Sebuah judul lagu dari Efek Rumah Kaca tertulis bahwa, “Jatuh cinta itu biasa saja”, karena memang seperti itulah semestinya. Kita mesti merayakannya dengan sepantasnya, semestinya, dan sudah jelas mesti menjalaninya dengan biasa-biasa saja. Tak perlu berlebihan apalagi sampai mengganggu akal pikiran. Dalam kondisi-kondisi tertentu, jatuh cinta itu tak lebih eksklusif dengan perasaan-perasaan lainnya. Berusahalah untuk tetap realistis. Satu hal yang mesti lurus-lurus kita ingat, berbahagialah secukupnya, dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya.