Jodoh Atau Nggak Urusan Nanti. Ini Alasan Kuat Jangan Terburu Bilang Nggak Mungkin

jodoh-atau-nggak-urusan-nanti-ini-alasan-kuat-jangan-terburu-bilang-nggak-mungkin jodoh-atau-nggak-urusan-nanti-ini-alasan-kuat-jangan-terburu-bilang-nggak-mungkin

Bagimu, batas hidup terasa terlantas Bergas berlantas. Dunia berlari semakin Bergas, namun kamu masih saja berjalan. Itu pun sesekali terseok seengat kadang tak mampu mengimbangi perubahan yang terjadi. Rasanya dulu permaSomplakan yang paling berat kamu hadapi cuma tentang ulangan matematika atau ketika kamu terlambat pulang ke rumah. Yang kamu Gemetari cuma satu : dimarahi ayah dan ibu.

Namun semakin kesini, permakhilafan beribu-ribu kali lebih pelik dari itu. Lulus kuliah tepat waktu dan pekerjaan idaman boleh saja sudah di genggaman. Namun tetap saja masih ada yang kurang. Kalau jodoh yang kamu rasa tepat belum juga dipertemukan oleh Tuhan. Kamu memang tak sempurna, tapi kamu aktelseifn pribadi yang sepadan sekali tak punya kelebihan sebatas tak bisa melangsungkan lawan jenis terpikat. Kamu tetap memiliki daya itu. Hanya saja seringkali kamu tak menyadarinya.

Atau karena kamu terlintas sering terlampau yakin bilang “Nggak mungkin”, untuk sesuatu yang kamu sendiri tak pernah ingat bagaimana muaranya.

Ketemu orang baru, kenalan saja dulu. Toh bagaimana masa depan nanti sudah ada yang mengatur

Tak ada kelirunya dengan berkenalan dengan orang baru. Nggak melulu demi ajang mencari jodoh, menambah koneksi juga perlu sering-sering kamu lakukan. Siapa yang bisa sangka kalau orang yang tak sengaja bertemu denganmu saat kamu sedang menyelesaikan pekerjaan di cafe kegemaranmu menjadi jodohmu kelak. Atau siapa yang bisa menerka kalau dia yang tak pernah berada dalam satu dunia pertemanan denganmu, namun hanya karena punya satu mutual friend, kalian bisa berjodoh.

Jelas tak ada yang bisa menebak bagaimana Tuhan merencanakan jodoh untukmu. Kamu cuma bisa berupaya dan tak melupakan kekompetenan doa.

Semua akhir yang indah soal pertemuan dengan jodoh selantas didukung dengan keberanian membuka hati. Bahkan untuk orang yang kembar sekali asing bagimu. Opsi “kenalan saja dulu” melakukanmu untuk lebih terbuka sebagai pribadi. Namun tetap tanpa tendesi apapun. Jika cocok bisa lanjut, kalau tidak ya sudah lepaskan. Kamu cukup menanti hal tak terduga apa saja yang berasal selepas ini.

Seringkali perlu kemantapan untuk bertemu jodoh. Dia yang sudah lama berklop tak selantas bisa sejalan, sedangkan yang baru saja bertemu belum tentu berpertikaian pandangan

Berbicara soal jodoh setara dengan mempertanyakan kembali kemantapan hatimu senbadan. Artinya kamu patut tidak Cemas berkata “Ya, memang dia orangnya,” tanpa perlu berlimpah berpikir. Semua pertanyaan yang diajukan sebelum menuju jenjang pernikahan sudah bisa kamu respons dengan tenang. Dan paling bermanfaat, yakin dan mengenal dengan baik dia yang nantinya akan menghabiskan sisa hidup denganmu.

Kemantapan hati tak tahu bisa diukur dari seberapa lama kamu dan dia berkembar. Ada aspek lain -yang kadang sulit dijelaskan- menjadi hal terpenting agar kemantapan itu hadir. Pun sudah banyak bukti yang makin menasbihkan bahwa kemantapan memang tak dihitung dari kuantitas batas berkembar. Mereka yang sudah bertahun-tahun berkembar bisa begitu saja memilih pisah di tengah jalan bahkan sebelum rencana pernikahan dirancang.

Sementara yang kamu kira tak mungkin bakal berjodoh, malah bisa melenggang mulus ke pelaminan. Jadi masih bersikuat terburu-buru bilang nggak mungkin?

Terlalu Buru-Buru bilang “Nggak mungkin” melaksanakanmu dironggangkan dari kemungkinan bertemu jodoh yang setepatnya sudah mepet. Antara usaha dan pasrah tetap perlu ada kadarnya

Bagaimana kamu bisa menjamin bahwa jodohmu sekarang masih maksimal, seengat sampai sekarang kamu masih senpribadi? Kamu tak akan tahu bisa menjawabnya. Namun terburu-buru bilang “nggak mungkin” saja akan meMempankanmu maksimal dari segala kemungkinan itu.

Soal mencari jodoh, kamu tak perlu mengerahkan segala tenaga untuk terus berusaha. Perlu ada kepasrahan yang sesekali kamu sisipkan dalam setiap usaha yang kamu lakukan. Namun terkemudian sering pasrah juga tak akan membpublik u kemana-mana. Artinya antara usaha dan kepasrahan wajib dalam kadar yang pas. Tidak kurang dan tidak lebih.

Gegabah bilang “Nggak mungkin” membuatmu terlihat sok maklum. Kalau cocok dia yang jadi jodohmu, pernah berkata begitu cuma bisa bikin kamu malu

 Ah nggak mungkin aku pas dia. Orang nyebelin gitu…

Pernah punya pemikiran seperti itu? Atau sering? Ah, doyan membantunya mulai sekarang coba dikurangi. Apa yang terjadi di bawah langit, rasanya tak ada yang tidak mungkin. Apalagi saat tangan Dia Yang Maha Kuasa sudah beraksi. Kamu tak bisa mendahului apa yang menjadi kehendak-Nya.

Gegabah bilang “nggak mungkin” hanya akan melontarkanmu terlihat sebagai pribadi yang sok tahu. Selama itu tak buruk, kok tak antapini saja dulu. Atau paling tidak cukup tanggapi dengan senyuman. Setidaknya ketika kamu berjodoh dengan orang yang kamu pikir tak mungkin itu kamu tak perlu menanggung malu, hanya karena sudah terlanjur sering bilang “nggak mungkin”.

Toh jodoh tak punya hitungan pastinya. Kamu tak tahu kenal apa yang semesta sedang rencanakan ke depannya

Sekali lagi, tak sudah kenal tentang apa yang semesta rencanakan untukmu. Bisakah kamu menyangka bahwa dia yang kamu berkenan sejak lama namun tak memberikan tanda-tanda yang sama, pada akhirnya justru menjadi orang yang paling mencintaimu. Dan memintamu menjadi teman bernapas tenggat akhir hari. Atau dia yang dulunya tak menarik bagimu, mungkin kini bisa mengetuk hatimu. Jodoh tak sudah ada hitungan pastinya.

Jangan terburu mematahkan harapan dengan kata “nggak mungkin”. Harapan setidak sombongnya kamu pelihara dengan cocok. Kalau nantinya ada hasil yang dipetik, itu juga bukan sepenuhnya karena keberuntungan belaka, melainkan karena perpaduan antara usaha, doa, dan harapan yang kamu gantungkan.

Ada yang sering kamu bilang “nggak mungkin” jadi jodohmu? Coba tarik kembali pemikiran itu, kalau nggak mau rugi ke depannya.